Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 Maret 2009

Pendidikan Anak

Keluarga, Teladan Pertama Anak

Oleh : Suyitno Rahmani,SHI.MA

Fathimah, balita kecil usia 2,5 tahun menggendong boneka pandanya. Sembari menggoyang-goyang si Panda seolah meninabobokannya, sesekali ia mengecup kepala bonekanya. Tampak betapa sayangnya ia pada boneka itu. Tak jauh darinya, ibunda Fathimah juga sedang menggendong bayinya, adik Fathimah yang berusia 4 bulan. Ternyata apa yang dilakukan Fathimah persis meniru ibundanya.
Dengan mengamati dan meniru, Fathimah telah belajar mencurahkan kasih sayang dari sang bunda. Tak heran, walaupun masih balita, naluri keibuannya mulai bertunas.
Tidak semua anak perempuan balita seperti Fathimah. Ada yang suka mencopoti tangan dan kaki bonekanya. Ada yang menggendongnya sekedar menggantung di leher, sehingga leher boneka tercekik. Ada lagi yang gemar melempar bonekanya ke luar melalui jendela kamar. Sebagai manusia dewasa, barangkali kita hanya mengatakan: “Ah biasa, perilaku anak-anak”. Tanpa kita menyadari, bahwa sesungguhnya balita-balita kecil itu sedang tumbuh, berkembang dan juga belajar.
Anak belajar dengan melihat, mendengar, mengamati kemudian meniru. Jangan dikira, makhluk kecil mungil itu tidak peduli pada lingkung-annya. Sesungguhnya mereka memiliki daya rekam yang luar biasa. Tanpa kita sadar, mereka bisa menjadi peniru-peniru ulung. Tak heran ketika kita meminta Mikko (3,5 th) untuk menyanyi, dengan fasihnya ia melantunkan “Mbah Dukun”-nya Alam, dengan lenggak-lenggoknya yang tak kalah dengan aslinya. Atau Rara (3 th) yang masih cedal menyanyi lagu “cucakrowo”. Kontan membuat jengah dan merah telinga orang dewasa, karena baitnya yang cukup “ngeres” dan “saru”.
Tapi siapa yang bisa disalahkan? Balita-balita ini sudah terbiasa dengan lantunan lagu-lagu itu di rumahnya. Bahkan orang tua mereka sendiri sering melagukannya. Lebih parah lagi mereka justru tertawa, bertepuk dan bersorak melihat balitanya yang mungil bisa menirukannya dengan lancar dan fasih.
Sumber Informasi Pertama
Keluarga adalah lingkungan pertama yang dikenal oleh anak. Ibu dan ayah adalah manusia-manusia dewasa kepada siapa anak belajar kata-kata yang pertama. Khususnya kepada Ibu, anak belajar kasih sayang. Kepada ayah, anak belajar tanggung jawab dan kepemimpinan. Bagaimana sikap ibu dan ayah kepada anak, sikap ayah kepada ibu dan sebaliknya ibu kepada ayah, adalah pola interaksi yang pertama dipelajari anak.
Dengan telinga dan matanya, anak belajar menyerap fakta dan informasi. Semakin banyak yang terekam, itulah yang paling mudah ditirunya. Bagaikan kertas putih bersih, orang tuanya yang akan memberinya coretan dan warna yang pertama.
Betapapun sederhananya pola pendidikan dalam sebuah keluarga, tetap-lah sangat berpengaruh pada pembentukan kepribadian anak. Keluarga merupakan awal bagi pertumbuhan pola pikir dan perasaan anak. Di dalam Islam, sistem pendidikan dalam keluarga menjadi penentu masa depan anak. Apakah anak akan menjadi shaleh, baik, santun, penyayang atau kurang ajar, kasar, bengis, semuanya tergantung pada tangan-tangan pertama yang mendidiknya, yakni orang tuanya.
Dalam sebuah hadits, menurut kesaksian Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda: “Setiap bayi dilahirkan di atas fitrah (mentauhidkan Allah), kedua orang tuanyalah yang menjadikannya seorang Yahudi, atau seorang Nasrani atau seorang Majusi.” (HR. Muslim).
Hadits ini menunjukkan bahwa setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Yang dimaksud adalah anak-anak yang baru dilahirkan memiliki fitrah yang bersih dan suci, yaitu beriman kepada Allah SWT. Orang tua memiliki peran dalam mengarahkan fitrah anak. Apakah akan tetap bersih, murni dan bersinar? Ataukah cahayanya akan memudar, bahkan hilang.

Ibu Pendidik Utama
Pendidik yang paling berkompeten dalam keluarga tentunya adalah orang tua (ayah dan ibu). Secara khusus, dalam sebuah keluarga, ibu adalah sosok yang memiliki peran yang sangat besar dan penting dalam proses tumbuh kembang anak. Kepada ibu, anak pertama kali berinteraksi. Ibulah yang paling dekat dengan anaknya. Dalam kandungan ibu, anak mendapatkan kasih sayang sehingga ia dapat tumbuh dan berkembang selama kurang lebih 9 bulan, bukan waktu yang singkat. Kesadaran, kerelaan, ketelatenan dan pengorbanan seorang ibu pada masa ini sangat diperlukan. Keikhlasan seorang ibu menjalani peran ini sangat menentukan lestarinya generasi manusia.
Sangatlah tepat kiranya bila Islam menempatkan “peran ibu” sebagai tugas pokok kaum perempuan. Untuk menjamin pelaksanaan ini, Islam menetapkan beberapa hukum khusus bagi perempuan, baik berupa hak ataupun kewajiban. Dengan pengaturan ini, ada jaminan bagi proses tumbuh kembang anak, sehingga menjadi manusia dewasa yang terarah.
Kemuliaan dan keagungan peran ini tergambar dalam sabda Nabi SAW: “Surga berada di bawah telapak kaki ibu” (THR Ahmad). Hadits ini mengambarkan betapa saleh dan tidaknya seorang anak tergantung bagaimana sang ibu mendidiknya. Kalau ibu memberikan pendidikan dasar yang baik, maka kemungkinan besar anak akan tumbuh menjadi manusia yang shaleh. Sebaliknya bila ibu sampai keliru dalam mendidiknya, maka bisa jadi dia tumbuh dewasa jauh dari arahan Islam.
Figur Ibu
Pentingnya figur seorang ibu atau orang tua yang baik, menunjukkan pentingnya sebuah keluarga sebagai lembaga pendidikan. Untuk itu ayah sebagai kepala keluarga berperan besar dalam mewujudkan figur ibu yang baik di lingkungan keluarganya.
Sejak awal, seorang calon ayah dianjurkan memilih calon ibu bagi anak-anaknya dari kalangan perempuan yang penyayang. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Hendaknya kamu menikahi perempuan yang subur dan penyayang, sebab denganmu umatku menjadi lebih banyak daripada umat para nabi yang lain di Hari Kiamat.” (THR. Ahmad dan Abu Hakim).
Seorang ibu yang penyayang tidak akan pernah rela untuk menelantarkan anaknya yang masih kecil demi karir. Ibu yang penyayang juga tidak akan mengorbankan hak anaknya mendapatkan ASI (Air Susu Ibu). Ibu yang penyayang ini tidak akan mengorbankan hak anaknya mendapatkan pengasuhan dan pendidikan yang terbaik.
Ketika seorang anak usia TK kecil ditanya oleh gurunya, “Apakah kamu punya kaset lagu untuk menari?” Ia menjawab:”Di rumah ada kaset lagu Goyang Dombret”. Sang guru terperanjat,”Itu bukan lagu yang bagus.” Tak kalah cepat si anak menukas: “Ibuku suka lagu itu, katanya itu lagu bagus.” Bisa dibayangkan betapa mengejutkan bila ternyata anak-anak kecil itu pun bisa mengatakan “goyang ngebor si Inul juga bagus”.
Kenyataannya tak sedikit orang tua yang tidak peduli sama sekali dengan perkembangan pola pikir dan kejiwaan anaknya. Keluarga yang seharusnya menjadi pelindung tumbuh kembang anak, justru menjadi tempat yang merusaknya. Padahal ibarat radar, anak akan menangkap setiap obyek yang ada di sekitarnya. Perilaku orang tua adalah hal yang pertama ditangkapnya.
Bagi seorang anak, ibu memiliki kesan pertama yang begitu besar. Untuk itu seorang ibu memang harus berperilaku dan berkepribadian tinggi. Supaya kesan pertama yang tertangkap anak adalah kesan yang baik. Kesan yang baik ini akan menjadi landasan yang kokoh bagi perkembangan kepribadian anak. Kekuatan figur ibu ini akan membuat anak mampu menyaring, apa yang boleh diambil dan apa yang tidak boleh dari lingkungannya. Anak akan menjadikan apa yang diterimanya dari sang ibu sebagai standar nilai. Anak akan lebih percaya kepada ibunya daripada orang lain, apalagi terhadap orang-orang yang kepribadiannya berlawanan dengan sang ibu. Dengan begitu anak akan menjadi milik ibunya. Ia tidak akan patuh begitu saja pada figur-figur di layar kaca yang gaya hidup dan perilakunya berlawanan dengan Islam.
Keteladanan
Karena anak banyak belajar dari contoh-contoh yang ada, maka anak membutuhkan figur-figur yang dapat dilihatnya secara langsung. Akal seorang anak belum sempurna untuk melakukan sebuah proses berpikir. Ia belum mampu menerjemahkan nilai-nilai kehidupan yang diajarkan kepadanya. Tepatlah kiranya seorang pakar ilmu pendidikan yang mengatakan bahwa keteladanan adalah media pendidikan yang paling efektif dan berpengaruh dalam menyampaikan tata nilai kehidupan. Dan karena keluarga adalah tempat pertama kali anak belajar hidup dan mengerti nilai-nilai kehidupan, maka orang tualah yang harus menjadi figur pertama keteladanan anak.

Bina Keluarga Sakinah

Membina Kaluarga Bahagia Sejahtera
Oleh: Suyitno Rahmani,MA
Awal mula kehidupan seseorang berumah tangga adalah dimulai dengan ijab Kabul, saat itulah segala sesuatu yang haram menjadi halal. Dan bagi orang yang telah menikah dia telah menguasai separuh agamanya.
Barang siapa menikah, maka dia telah menguasai separuh agamanya, karena itu hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dalam memelihara yang separuhnya lagi. [HR. al-Hakim].
Sebuah rumah tangga bagaikan sebuah bangunan yang kokoh, dinding, genteng, kusen, pintu berfungsi sebagaimana mestinya. Jika pintu digunakan sebagai pengganti maka rumah akan bocor, atau salah fungsi yang lain maka rumah akan ambruk. Begitu juga rumah tangga suami, istri dan anak harus tahu fungsi masing-masing, jika tidak maka bisa ambruk atau berantakan rumah tangga tersebut.
Mari kita telaah satu persatu masing-masing fungsi suami dan istri tersebut.

Kewajiban Suami
Suami mempunyai kewajiban mencari nafkah untuk menghidupi keluarganya, tetapi disamping itu ia juga berfungsi sebagai kepala rumah tangga atau pemimpin dalam rumah tangga. Alloh SWT dalam hal ini berfirman:
Laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita, karena Alloh telah melebihkan sebagian dari mereka atas sebagian yang lainnya dan karena mereka telah membelanjakan sebagian harta mereka. (Qs. an-Nisaa’: 34).
Menikah bukan hanya masalah mampu mencari uang, walaupun ini juga penting, tapi bukan salah satu yang terpenting. Suami bekerja keras membanting tulang memeras keringat untuk mencari rezeki yang halal tetapi ternyata tidak mampu menjadi pemimpin bagi keluarganya.
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. (Qs. at-Tahriim: 6).
Suami juga harus mempergauli istrinya dengan baik:
Dan pergauilah isteri-isteri kalian dengan baik. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak. (Qs. an-Nisaa’: 19).
Barang siapa menggembirakan hati istri, (maka) seakan-akan menangis takut kepada Allah. Barang siapa menangis takut kepada Allah, maka Allah mengharamkan tubuhnya dari neraka. Sesungguhnya ketika suami istri saling memperhatikan, maka Allah memperhatikan mereka berdua dengan penuh rahmat. Manakala suami merengkuh telapak tangan istri (diremas-remas), maka berguguranlah dosa-dosa suami-istri itu dari sela-sela jarinya. [HR. Maisarah bin Ali dari Ar-Rafi' dari Abu Sa'id Al-Khudzri].
Dalam satu kisah diceritakan, pada suatu hari istri-istri Rasul berkumpul ke hadapan suaminya dan bertanya, “Diantara istri-istri Rasul, siapakah yang paling disayangi?” Rasulullah Saw hanya tersenyum lalu berkata, “Aku akan beritahukan kepada kalian nanti.“
Setelah itu, dalam kesempatan yang berbeda, Rasulullah memberikan sebuah kepada istri-istrinya masing-masing sebuah cincin seraya berpesan agar tidak memberitahu kepada istri-istri yang lain. Lalu suatu hari para istri Rasulullah itu berkumpul lagi dan mengajukan pertanyaan yang sama. Lalu Rasulullah Saw menjawab, “Yang paling aku sayangi adalah yang kuberikan cincin kepadanya.” Kemudian, istri-istri Nabi Saw itu tersenyum puas karena menyangka hanya dirinya saja yang mendapat cincin dan merasakan bahwa dirinya tidak terasing.
Bahkan tingkat keshalihan seseorang sangat ditentukan oleh sejauh mana sikapnya terhadap istrinya. Kalau sikapnya terhadap istri baik, maka ia adalah seorang pria yang baik. Sebaliknya, jika perlakuan terhadap istrinya buruk maka ia adalah pria yang buruk.
Hendaklah engkau beri makan istri itu bila engkau makan dan engkau beri pakaian kepadanya bilamana engkau berpakaian, dan janganlah sekali-kali memukul muka dan jangan pula memburukkan dia dan jangan sekali-kali berpisah darinya kecuali dalam rumah. [al-Hadits].
Orang yang paling baik diantara kalian adalah yang paling baik perlakuannya terhadap keluarganya. Sesungguhnya aku sendiri adalah yang paling baik diantara kalian dalam memperlakukan keluargaku. [al-Hadits].
Begitulah, suami janganlah kesibukannya mencari nafkah di luar rumah lantas melupakan tanggung jawab sebagai pemimpin keluarga. Suami berkewajiban mengontrol dan mengawasi anak dan istrinya, agar mereka senantiasa mematuhi perintah Allah, meninggalkan larangan Allah swt sehingga terhindar dari siksa api neraka. Ia akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah jika anak dan istrinya meninggalkan ibadah wajib, melakukan kemaksiatan, membuka aurat, khalwat, narkoba, mencuri, dan lain-lain.
Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan diminta pertanggung jawaban atas yang dipimpinnya. [HR. Bukhari].
Kewajiban Istri
Istri mempunyai kewajiban taat kepada suaminya, mendidik anak dan menjaga kehormatannya (jilbab, khalwat, tabaruj, dan lain-lain.). Ketaatan yang dituntut bagi seorang istri bukannya tanpa alasan. Suami sebagai pimpinan, bertanggung jawab langsung menghidupi keluarga, melindungi keluarga dan menjaga keselamatan mereka lahir-batin, dunia-akhirat.
Tanggung jawab seperti itu bukan main beratnya. Para suami harus berusaha mengantar istri dan anak-anaknya untuk bisa memperoleh jaminan surga. Apabila anggota keluarganya itu sampai terjerumus ke neraka karena salah bimbing, maka suamilah yang akan menanggung siksaan besar nantinya.
Ketaatan seorang istri kepada suami dalam rangka taat kepada Allah dan Rasul-Nya adalah jalan menuju surga di dunia dan akhirat. Istri boleh membangkang kepada suaminya jika perintah suaminya bertentangan dengan hukum syara’, missal: disuruh berjudi, dilarang berjilbab, dan lain-lain.
Perempuan apabila sembahyang lima waktu, puasa bulan Ramadhan, memelihara kehormatannya serta taat akan suaminya, masuklah dia dari pintu syurga mana saja yang dikehendaki. [al-Hadist].
Dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasannya adalah wanita shalihah. [HR. Muslim, Ahmad dan an-Nasa'i].
Wanita yang shalihah ialah yang ta’at kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). (Qs. an-Nisaa’: 34).
Ta’at kepada Allah, ta’at kepada Rasul, memakai jilbab (pakaian) yang menutup seluruh auratnya dan tidak untuk pamer kecantikan (tabarruj) seperti wanita jahiliyah. (Qs. al-Ahzab: 32).
Sekiranya aku menyuruh seorang untuk sujud kepada orang lain. Maka aku akan menyuruh wanita bersujud kepada suaminya karena besarnya hak suami terhadap mereka. [al-Hadits].
Sebaik-baik wanita adalah yang menyenangkan hatimu jika engkau memandangnya dan mentaatimu jika engkau memerintahkan kepadanya, dan jika engkau bepergian dia menjaga kehormatan dirinya serta dia menjaga harta dan milikmu. [al-Hadist].
Perselisihan
Suami dilarang memukul/menyakiti istri, jika terjadi perselisihan ada beberapa tahapan yang dapat ditempuh,
Istri-istri yang kalian khawatirkan pembangkangannya, maka nasihatilah mereka, pisahkanlah mereka dari tempat tidur, dan pukullah mereka (dengan pukulan yang tidak membahayakan). Akan tetapi, jika mereka menaati kalian, janganlah kalian mencari-cari jalan untuk menyusahkan mereka. (Qs. an-Nisaa’: 34).
Hendaklah engkau beri makan istri itu bila engkau makan dan engkau beri pakaian kepadanya bilamana engkau berpakaian, dan janganlah sekali-kali memukul muka dan jangan pula memburukkan dia dan jangan sekali-kali berpisah darinya kecuali dalam rumah. [al-Hadits].
Jika kalian merasa khawatir akan adanya persengketaan diantara keduanya, maka utuslah seorang (juru damai) dari pihak keluarga suami dan sorang juru damai dari pihak keluarga istri. Jika kedua belah pihak menghendaki adanya perbaikan, niscaya Allah akan memberi taufik kepada suami-istri. (Qs. an-Nisaa’: 35).
Demikianlah Islam mengatur dengan sempurna kehidupan keluarga sehingga terbentuk keluarga sakinah dan bahagia dunia-akhirat. Wallahua’lam.